Don't Miss

Inilah Cara Wartawan dan LSM Gadungan Memeras Sekolah

By on Februari 4, 2016
Wartawan dan Lembaga Swadaya Masyarakat seharusnya bekerja untuk mengontrol dan membantu pihak-pihak sekolah, terkecuali pihak sekolah tersebut melakukan “kecurangan” atau kesalahan. Namun sebagian besar dari mereka cenderung malah memeras dan mengintimidasi Kepala-kepala Sekolah  untuk minta jatah dana BOS misalnya. Memang tidak semua wartawan maupun LSM bertindak demikian, masih banyak wartawan dan LSM yang berhati mulia membantu dunia pendidikan. Hanya sebagian oknum gadungan sajalah yang merasa dirinya “super power” datang ke sekolah dan meminta “jatah”.

wartawan dan LSM gadungan
sumber gambar : Google.com
Seperti yang dikutip dari kerincigoogle.com “Mereka (oknum wartawan dan oknum LSM) sering datang ke sekolah untuk minta jatah dana BOS atau dana proyek dekonsentrasi untuk rehabilitasi gedung sekolah atau pembangunan ruang kelas baru. Seolah-olah mereka juga harus mendapatkan bagian,” kata Direktur KoAk, Muhammad Yunus.

Yunus juga menyarankan agar para kepala sekolah tidak perlu takut kepada para wartawan dan orang yang mengaku aktivis LSM tapi pekerjaannya memeras.

“Kami pernah mengadvokasi para kepala SD, SMP, dan SMA di Bandar lampung agar memasang data dana BOS di papan pengumuman sekolah. Sebagian besar kepala sekolah keberatan memasang informasi dan BOS karena takut didatangi wartawan dan aktivis LSM tiap minggu,” kata Yunus.

Berikut ciri-ciri mereka dalam melakukan aksinya yang kami kuti dari teraslampung.com :

  1. Mereka datang berombongan. Satu rombongan terdiri atas 3 orang atau lebih. Biasanya mereka datang dengan sepeda motor atau mobil rental.
  2.  Memakai seragam layaknya seorang wartawan.Biasanya memakai baju rompi atau baju lengan panjang. 
  3. Membawa kartu pers dan atau kartu tanda anggota LSM dengan tulisan mencolok.  Kartu pers dan kartu LSM itu biasanya diselipkan di saku baju dengan posisi agar tampak jelas dibaca. Kartu pers dan atau kartu LSM itu juga sering diberi tali dan dikalungkan di leher. 
  4. Sesaat setelah datang ke kantor sekolah/ ruang kepala sekolah, biasanya mereka akan to the point tentang dana BOS atau dana proyek yang diterima sekolah. Mereka akan langsung menyimpulkan ada penyimpangan dana di sekolah tersebut.
  5. Mereka tak jarang berpura-pura menelepon koleganya yang diklaim sebagai anggota polisi atau pengacara. Maksudnya, agar kepala sekolah takut.
  6. Kalau kepala sekolah terlihat takut, mereka melancarkan jurus negosiasi. Mereka menggunakan bahasa “kerja sama” untuk negosiasi tersebut.
  7. Kalau kepala sekolah berani dan meyakinkan bahwa di sekolahnya tidak ada penyimpangan dana, mereka akan menurunkan jumlah uang yang diminta. Kalau kepala sekolah tetap tidak mau memberikan uang, biasanya mereka akan menerima berapa pun yang diberikan kepala sekolah. Mereka menyebutnya uang bensin. Artinya, Rp 20 ribu pun akan mereka terima.
  8. Kalau kepala sekolah takut dan memberikan sejumlah uang, pada bulan berikutnya mereka akan datang lagi untuk meminta jatah.

About CAPTAIN IWAN

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *